Ratusan Lubang di Jalan Pelabuhan Raya Ancam Nyawa Warga, PT Pelindo Regional 1 Dinilai Lalai
Ratusan Lubang di Jalan Pelabuhan Raya Ancam Nyawa Warga, PT Pelindo Regional 1 Dinilai Lalai
BELAWAN – Belawan dikenal sebagai pintu gerbang perekonomian Provinsi Sumatera Utara sekaligus pelabuhan terbesar ketiga di Indonesia. Ironisnya, kondisi infrastruktur utama menuju Pelabuhan Belawan justru memprihatinkan.
Sepanjang Jalan Pelabuhan Raya, mulai dari Simpang Kampung Salam hingga Simpang Kelurahan Bagan Deli, kondisi jalan rusak parah. Ratusan lubang besar terlihat di hampir seluruh badan jalan, menghambat aktivitas ekonomi sekaligus mengancam keselamatan pengguna jalan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerusakan jalan tersebut telah menyebabkan banyak kecelakaan lalu lintas. Sejumlah pengendara sepeda motor dilaporkan terperosok ke lubang jalan, bahkan beberapa di antaranya meninggal dunia atau mengalami luka berat setelah terjatuh dan tertabrak kendaraan lain, termasuk truk bertonase besar yang hilir mudik menuju pelabuhan.
Hingga Selasa (23/12/2025), belum terlihat langkah konkret perbaikan dari pihak terkait. Persoalan ini dinilai menjadi ajang saling lempar tanggung jawab antara Pemerintah Kota Medan dan PT Pelindo Regional 1 Belawan.
Padahal, masyarakat Belawan telah berulang kali menggelar aksi unjuk rasa mendesak agar Jalan Pelabuhan Raya segera diperbaiki. Namun tuntutan tersebut hingga kini belum membuahkan hasil dan hanya berujung pada janji tanpa kepastian.
Sekitar 70 persen aktivitas di Jalan Pelabuhan Raya diketahui digunakan untuk kepentingan operasional Pelabuhan Belawan, mulai dari kendaraan logistik hingga truk bermuatan berat. Kondisi ini memunculkan sorotan tajam terhadap minimnya kontribusi PT Pelindo Regional 1 Belawan dalam perawatan dan perbaikan jalan.
Sorotan publik semakin menguat mengingat sebelumnya Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara telah menahan tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan kapal tunda di PT Pelabuhan Indonesia I (Persero). Selain itu, Kejatisu juga melakukan penggeledahan di kantor PT Pelindo Regional 1 Belawan dan KSOP Utama Belawan terkait dugaan korupsi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) jasa kepelabuhanan dan kenavigasian Pelabuhan Belawan Tahun 2023–2024.
Tokoh masyarakat Belawan sekaligus pemuka agama, Ustaz Muhammad Nabawi, menyampaikan keprihatinannya saat meninjau langsung kondisi jalan tersebut.
“Jalan ini merupakan akses utama menuju Pelabuhan Belawan, pelabuhan nomor tiga terbesar di Indonesia dan salah satu penyumbang devisa terbesar di Sumatera Utara. Sudah seharusnya PT Pelindo Regional 1 memberi perhatian serius,” ujarnya.
Menurutnya, aktivitas kendaraan berat yang diduga melebihi kapasitas muatan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan. Selain itu, buruknya sistem drainase yang tersumbat turut memperparah kondisi, terutama saat hujan deras dan air pasang laut yang menggenangi badan jalan.
Warga juga mengeluhkan minimnya fasilitas pendukung, seperti lampu penerangan jalan yang banyak tidak berfungsi. Kondisi tersebut menyebabkan ruas jalan gelap gulita pada malam hari dan rawan tindak kejahatan.
“Biaya perawatan infrastruktur seharusnya tersedia. Namun kenyataannya banyak lampu mati. Patut diduga ada ketidaksesuaian antara laporan dan kondisi di lapangan,” tegasnya.
Ustaz Muhammad Nabawi juga meminta Menteri BUMN, Menteri Keuangan, manajemen pusat PT Pelindo, aparat penegak hukum, Kejaksaan, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan audit menyeluruh terhadap PT Pelindo Regional 1 Belawan, termasuk pengelolaan infrastruktur dan dugaan pungutan liar terhadap pihak ekspedisi.
Ia berharap pemerintah pusat, Pemerintah Kota Medan, dan PT Pelindo Regional 1 Belawan segera duduk bersama dan mengambil langkah nyata.
“Jangan sampai jalan rusak ini terus memakan korban jiwa. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas,” pungkasnya.(Fir)