Skandal Proyek LPG Belawan: Diduga Telan Ratusan Miliar, Terlihat Dari Kejauhan Besi Raksasa Berkarat
Skandal Proyek LPG Belawan: Diduga Telan Ratusan Miliar, Terlihat Besi Raksasa Berkarat
BELAWAN – Proyek pembangunan terminal LPG berskala nasional di Jalan Pelabuhan Raya, Belawan, Sumatera Utara, milik PT Pertamina Gas kini menjadi sorotan publik. Bukan karena progres pembangunannya, melainkan karena kondisinya yang mangkrak dan diduga terbengkalai.
Dari pantauan di lapangan, sejumlah struktur utama proyek memang telah berdiri. Namun, kondisi bangunan tampak tidak terawat. Besi-besi konstruksi mulai berkarat, sementara aktivitas pengerjaan nyaris tidak terlihat.
Situasi tersebut memunculkan kesan kuat bahwa proyek strategis itu terhenti di tengah jalan tanpa kejelasan kelanjutan.
Vendor Berganti, Proyek Tak Kunjung Rampung
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa proyek pembangunan tangki LPG tersebut tidak lagi ditangani vendor awal. Pergantian pelaksana proyek diakui pihak keamanan di lingkungan Pertamina Region I Fuel Terminal Medan Group di Jalan Minyak No. 1 Belawan.
Namun, pergantian vendor justru memunculkan berbagai pertanyaan baru. Publik mempertanyakan alasan proyek strategis nasional itu berganti pelaksana di tengah proses pembangunan.
Apakah terdapat kendala teknis, persoalan administrasi, atau masalah lain yang lebih serius?
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi secara rinci terkait penyebab mandeknya proyek tersebut.
Diduga Serap Anggaran Hingga Rp600 Miliar
Sebagai proyek berskala nasional, pembangunan terminal LPG Belawan disebut-sebut menyerap anggaran sangat besar.
Kondisi proyek yang mangkrak dalam waktu lama pun memunculkan dugaan potensi pemborosan keuangan negara.
Sejumlah elemen masyarakat mulai mempertanyakan transparansi dalam perencanaan maupun pelaksanaan proyek tersebut.
Minimnya informasi terbuka dinilai semakin memperbesar kecurigaan publik.
Seorang tokoh yang kerap bolak-balik Jakarta–Belawan menyebut nilai proyek diperkirakan mencapai Rp400 miliar hingga Rp600 miliar. Proyek itu disebut merupakan bagian dari tiga pembangunan terminal serupa di Batam, Belawan, dan Kalimantan.
“Kalau tidak salah itu milik PN Gas, kemungkinan pindahan dari Pangkalan Brandan,” ujarnya.
Masyarakat Desak Aparat Turun Tangan
Tokoh masyarakat Belawan, Opung, meminta aparat penegak hukum turun tangan menelusuri persoalan proyek tersebut secara terbuka dan menyeluruh.
“Ini bukan proyek kecil, ini proyek nasional. Kalau mangkrak seperti ini, harus jelas siapa yang bertanggung jawab. Kami minta aparat penegak hukum mengusutnya secara terbuka. Jangan sampai ada yang bermain di balik proyek ini,” tegasnya.
Publik Menunggu Kepastian
Hingga saat ini, belum terlihat tanda-tanda proyek akan kembali dilanjutkan dalam waktu dekat. Tidak adanya papan informasi terbaru maupun aktivitas konstruksi semakin memperkuat dugaan bahwa proyek terhenti tanpa arah yang jelas.
Publik kini menunggu kepastian: apakah proyek ini akan dilanjutkan, atau justru menjadi daftar panjang proyek mangkrak yang tak pernah terselesaikan.
Jika tak kunjung ada kejelasan, yang tersisa bukan hanya bangunan berkarat, tetapi juga meningkatnya keraguan publik terhadap pengelolaan proyek strategis negara.
Sementara itu, pihak Pertamina belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi kepada pihak humas hingga kini disebut belum memperoleh jawaban.